Showing posts with label risalah hati. Show all posts
Showing posts with label risalah hati. Show all posts

Monday, January 3, 2011

HINDARI CELAAN DAN HINAAN


Akhlak seorang suami terhadap isteri atau sebaliknya harus memegang prinsip romantisme menghindari celaan dan hinaan. Jangan pernah mencela. Jangan pernah menghina. Jikalau pasangan melakukan kesalahan, maka ingatkanlah dengan santun dan dengan suara yang penuh welas asih. Bukan dengan suara tinggi. Tidak disertai dengan caci maki. Dan perlu disadari bahwa yang salah adalah perbuatannya, bukan orangnya keseluruhan. Setiap orang pasti pernah melakukan kekeliruan. Termasuk suami atau isteri. Oleh karena itu, ingatkan perbuatannya saja, dengan tanpa mencela dan mencaci orangnya. Celaan selalu membekas di hati. Bagaikan sayatan pisau di permukaan batang pohon. Semakin banyak celaan, maka semakin banyak bekas sayatan yang ada pada batang pohon. Bersikaplah lembut. Seperti do’a yang diucapkan banyak orang kepada anda berdua ketika menikah dulu: ”Allafa baina quluubuhum”. Yang artinya lembutkan hati mereka berdua. Kelembutan atau kekasaran hati ini bersifat imbal balik. Seorang suami yang bersikap kasar terhadap isterinya, akan mengakibatkan isteri juga bersikap kasar dan kurang sopan kepadanya. Begitupun sebaliknya. Sikap lembut suami akan dibalas dengan sikap lembut isteri. Maka dari itu, tuntutlah diri sendiri terlebih dulu untuk bersikap santun dan lembut, maka dunia akan bersikap lembut dan santun kepada anda, Insya Allah.

Aku bertanya kepada pamanku, Hind bin Abi Halah. Ia adalah seorang ahli dalam meriwayatkan (sifat Rasulullah SAW). Aku bertanya: Ceritakanlah kepadaku sifat Rasulullah SAW berbicara? Ia menjawab: Rasulullah SAW adalah seorang yang banyak mengenyam kesusahan. Beliau selalu berpikir, tidak sempat beristirahat santai. Beliau lebih banyak diam (tidak banyak bicara), beliau tiada bicara, kecuali apabila perlu. Membuka dan menutup pembicaraannya dengan menyebut nama Allah Ta’ala. Isi pembicaraannya padat dengan makna, kata-katanya jelas, tiada yang sia-sia, dan tiada pula yang kurang dipahami. Beliau tiada berlaku kasar dan tiada pernah menghina. Nikmat Allah dibesarkannya walaupun hanya sedikit. Selain itu, beliau tak pernah mencela makanan dan minuman. Juga tidak pernah memujinya (HR. Tirmidzi)


BERSEDIH KARENA CINTA


Disebut cinta…
Jika tangismu lebih keras dari kekasih
Ketika jiwanya diterjang sedih

Bukan lagi dua hati, jika cinta sejati telah merasuk sempurna. Musibahnya musibahmu. Tangisnya adalah tangismu. Kesedihannya kesedihanmu. Duka lara yang melingkupinya, adalah duka lara yang melingkupimu. Semua terjadi begitu saja. Secara alami. Sebab cinta telah meleburkan dua hati menjadi satu.
Jika kekasih tidak bersedih ketika jiwamu berduka, maka jangan percayai cintanya. Mungkin hatinya baru memasuki tahap suka. Mungkin juga dia lebih memilih menyerahkan hatinya kepada keangkuhan, bukan kepada petunjuk cinta. Dan yang demikian itu bukanlah cinta sejati. Sebab keangkuhan adalah musuh cinta. Keduanya tak dapat bersatu. Seperti air dan minyak kelapa.
Cinta selalu memberi isyarat halus kepada empunya. Jika hatimu telah menggenggam cinta, maka isyarat kesedihan kekasih selalu mudah kau baca. Bahkan sebelum air mata pertama kekasih menetes, kedua pipimu telah basah oleh air mata. Semua terjadi begitu saja. Ya, begitu saja.


DAHULUKAN KEKASIH


Seringkali keangkuhan ego seorang pecinta tampil di depan. Lalu angkuh dan ego itu memimpin sikap dan perilakunya kepada kekasih. Sehingga sang kekasih akan membalasnya secara naluriah untuk menggunakan egonya pula dalam setiap sikap dan perbuatan.
Ketika seorang pecinta mendahulukan kepentingannya. Menganggap setiap urusannya jauh lebih penting ketimbang urusan kekasihnya. Merasa perkaranya lebih utama. Merasa kebutuhannya harus dipenuhi lebih dulu. Maka yang terjadi adalah sang kekasih melakukan pembalasan (yang seringkali) secara bawah sadar. Jika dia pernah menerima penghinaan kata, maka suatu saat dia akan membalasnya dengan penghinaan kata. Jika harga dirinya pernah dilecehkan, dia akan membalasnya dengan pelecehan serupa. Jika kehormatannya direndahkan, maka suatu saat dia akan membalasnya dengan merendahkan kehormatan pula. Jika perkaranya diremehkan, maka tunggulah pembalasan setimpal darinya. Kesemua balasan itu seringkali muncul secara bawah sadar. Sebab setiap sakit hati yang disebabkan oleh sikap dan perbuatan orang di luar dirinya (termasuk kekasih) akan menorehkan luka di permukaan hatinya. Suatu saat, luka ini “memerintahkannya” melakukan pembalasan jika kesempatan telah terbuka.
Sebab itulah, angkuh dan ego adalah sumber buruk yang bukan saja menggerus romantisme sepasang kekasih, tapi juga menimbulkan keretakan hubungan keduanya. Jauhkanlah ego dari sikap, kata dan perbuatan. Jangan biarkan ego memimpin. Jangan biarkan ego menjadi ibu yang melahirkan perilaku sehari-hari. Dahulukan kekasih, maka dia akan mendahulukanmu. Utamakan dia, maka dia akan mengutamakanmu. Hargai setiap kata dan perbuatan yang dilakukannya. Maka dia akan menghargaimu dengan sukarela. Sayangi dia sepenuh hati. Maka dia akan menyayangimu dengan segenap nurani.

Cinta adalah kasih sayang yang tersaji
Seolah kekasih akan meninggal esok hari
Tak ada insan yang mampu lakukan ini
Sebelum hati kecilnya menjadi suci
Bersih dari kerak-kerak keangkuhan hati


CINTA : IKATAN YANG KUAT


Jika gelombang prahara menerpa
Dan tali yang mengikat dua hati lepas
Jangan sebut yang demikian cinta
Sebab cinta adalah keteguhan nurani
Tuk pertahankan tali yang mengikat dua hati

Pernikahan adalah ikatan cinta yang sangat kuat: “mitsaqon gholidlo”. Ikatan yang sangat sangat kuat. Hingga tak mudah lepas. Ikatan yang menyatukan seorang pria dan wanita ini begitu kuatnya sehingga tak boleh goyah oleh badai yang menghantam. Oleh prahara yang menerjang. Oleh musibah yang menghadang.
Wahai para wanita, jangan karena kesulitan ekonomi, lantas engkau memojokkan suamimu. Mengeluhkan nafkahnya yang dirasa kurang. Mempertipis sikap romantis. Mengurangi kadar penghormatanmu kepadanya. Lalu kau sering melakukan kekerasan verbal yang menyinggung hati dan melukai harga dirinya sebagai lelaki. Jika engkau melakukan yang demikian, maka engkau telah mengendurkan ikatan cinta yang kuat itu. Dan semakin lama ikatan itupun semakin berkurang kekuatannya akibat perbuatanmu tersebut.
Wahai para pria, jangan hanya karena semakin banyaknya keriput di wajah isterimu lantas engkau mengurangi kadar cintamu. Lantas engkau pangkas kasih sayangmu. Lantas engkau turunkan perhatianmu kepadanya. Lantas engkau rubah sikap lemah lembutmu menjadi sikap keras lagi kasar. Kau bentak-bentak dirinya oleh sebab perkara sepele. Bahkan kau pukul hanya karena kesal. Jangan ! Sebab, jika kau lakukan itu, maka dirimu telah menggosokkan belati ke ikatan cinta kalian. Semakin sering belati ini kau gosokkan, semakin rapuhlah ikatan ini. Jika sudah demikian, maka tunggulah saatnya ikatan cinta kalian akan putus.
Bukankah yang kalian inginkan adalah ikatan tersebut terus menerus kuat ? Bukankah yang kalian kehendaki adalah rumah tangga menenteramkan hati ? Bukankah yang kalian dambakan adalah rumah tangga romantis yang menyejukkan ? Maka perkuatlah terus ikatan cinta kalian. Dengan ahlak yang baik. Dengan membiasakan menggunakan ucapan yang manis dan menyenangkan. Dengan saling memberikan pujian tulus. Saling menghormati. Saling menghargai. Saling menjaga sikap. Saling berkomitmen menjaga perasaan satu sama lain. Saling mengendalikan kata-kata ketika marah. Dan saling berupaya menjaga kadar kasih sayang tetap utuh, meski dilanda musibah atau prahara yang menghantam biduk rumah tangga.


KATA2 YANG LEMBUT SEBAGAI PENYEJUK CINTA


Cinta merupakan percikan Rahmat dari Sang Pencipta
Dianugerahkan pada setiap insan yang jernih hatinya
Makin lembut tutur katanya, makin jernih hatinya
Sebab tutur kata adalah cermin dari hati insan manusia

Cinta bagaikan pohon yang benihnya ditanamkan Sang Pencipta ke dalam hati manusia. Buahnya adalah kebahagiaan. Batangnya kesetiaan. Akarnya pengorbanan. Jangan pernah berharap pohon cinta itu berbuah sebelum tumbuh subur, besar dan kokoh.
Maka pupuklah pohon cinta itu dengan ujaran lembut. Agar cepat besar lalu berbuah. Tutur kata lembut sangatlah penting dalam kehidupan cinta. Perkataan lembut meringankan beban hati. Perkataan lembut menghilangkan rasa curiga dan pemikiran buruk. Perkataan buruk menciptakan suasana hangat dan mesra. Perkataan lembut menciptakan susasana saling menghargai dan menghormati. Perkataan lembuat adalah cerminan ahlak mulia. Perkataan lembut adalah pilar dari kerendahan hati. Perkataan lembut menjauhkan dari sikap sombong dan ingin menang sendiri. Perkataan lembut lebih dekat kepada sikap pemaaf dan sabar.
Ketika kekasih khilaf dan berkata-kata dengan nada tinggi, jangan membalasnya dengan meninggikan suara pula. Sebab yang demikian itulah yang diinginkan syetan. Nada tinggi dibalas dengan nada tinggi hanya akan memperkeruh suasana. Memperpanas hati. Membakar emosi. Meluapkan amarah. Dan akhirnya berujung pada pertikaian. Dan ingatlah, setiap pertikaian selalu meninggalkan sayatan pada pohon cinta. Maka jika ingin pohon cinta kalian tetap utuh wahai para pecinta, maka hindarilah pertikaian yang seringkali diawali dengan perang nada tinggi ini. Maka balaslah nada tinggi kekasih dengan nada lembut. Jagalah hati agar tetap dingin. Jangan terpancing oleh luapan emosi sesaat. Salah satu cara menghindari amarah adalah engkau berwudlu. Sebab syetan-syetan spesialis pembangkit amarah yang mengelilingimu akan lari tunggang langgang ketika engkau berwudlu lalu berdo’a memohon perlindungan kepadaNya. Ketika kekasih melihatmu tetap tenang dan kalem, tentunya nuraninya akan bangkit dan mengingatkan dirinya sendiri untuk lebih terkendali dan menurunkan nada tingginya.


NYATAKAN CINTAMU


Suamimu sering berkata kasar. Jarang sekali bersikap lembut. Tidak pernah mencium pipi atau kening sebelum berangkat kerja. Tidak pernah mendengar keluhan hati isteri secara serius. Tidak pernah memberikan gift yang menyegarkan bunga-bunga keceriaanmu sebagai wanita. Lalu suatu hari mulutnya mengatakan bahwa dia mencintaimu. Apakah engkau percaya dan yakin sepenuhnya bahwa dia mencintaimu ?
Isterimu sering mengomel. Suka menggerutu. Suka mengeluh hal-hal sepele. Bahkan dia bukan hanya mengeluhkan keadaan, namun juga mengeluhkan dirimu. Dia tidak bersyukur dengan nafkah yang diterimanya padahal anda telah bersusah payah setiap hari. Setiap kali membuatkan teh saja rasanya sering terlalu pahit atau terlalu manis. Bahkan tidak mau memijit punggungmu ketika hari itu engkau merasa sangat kepayahan. Lalu suatu hari dia mengucapkan bahwa dia menghormati dan mencintaimu. Apakah engkau yakin dan percaya sepenuhnya bahwa dia benar-benar menghormati dan mencintai dirimu ?
Wahai para suami dan para isteri, tentu saja nurani kalian tidak sepenuhnya yakin akan kata-kata cinta yang diujarkan mulut. Sebab cinta adalah perasaan yang menghunjam jauh kedalam lubuk hati yang di”nyata”kan dalam sikap, perbuatan serta karya nyata sehari-hari, bukan sekedar kata-kata.
Maka wahai suami isteri, renungkanlah dan evaluasilah diri kalian masing-masing. Apakah engkau termasuk pecinta sejati atau pecinta gadungan ? Pecinta sejati menyatakan cinta. Sedang pecinta gadungan mengatakan cinta.

Cinta bukanlah benda, yang terlihat
Namun irama perasaan yang mengalun memikat
Tersimpan rapi di ruang hati
Hanya kekasih sejati yang mengetahui

Jangan sebut cinta…
Sebelum tetes terakhirnya telah juga meresap ke jiwa
Lalu setiap sikap dan tindakan yang tercipta
Selalu berlandaskan atasnya


RITUAL CINTA


Ritual cinta adalah salah satu cara mujarab untuk meleburkan dua perasaan menjadi satu. Untuk meleburkan “aku” dan “kamu” menjadi “kita”. Sehingga tak ada lagi kesenanganmu dan kesenanganku, tapi kesenangan kita. Tak ada lagi kesedihanmu dan kesedihanku, tapi kesedihan kita. Tak ada lagi urusanmu dan urusanku, tapi urusan kita. Tak ada lagi musibahmu dan musibahku, tapi musibah kita. Tak ada lagi airmatamu dan airmataku, tapi airmata kita.
Disamping ritual-ritual cinta standar, sepasang kekasih alangkah baiknya memiliki ritual cinta yang khas. Yang tidak atau jarang dilakukan oleh pasangan lain. Rundingkanlah dengan kekasih, tentang ritual cinta yang paling sesuai. Namun jika belum menemukannya, setidaknya terapkanlah terlebih dulu ritual cinta standar. Antara lain, ciumlah tangan suami sesudah sholat berjamaah berdua. Ciuman itu menjadi ritual yang selalu mengingatkan para isteri untuk selalu taat, patuh dan menghormati dengan setulus hati kepada suami. Dan bagi para suami, ciumlah selalu kening isteri sebelum berangkat kerja dan sebelum tidur. Ciuman ini menjadi obat bagi kerinduan isteri karena sejenak “berpisah” dengan suami. Ciuman ini juga menjadi pesan suami untuk hati isterinya bahwa dia kan selalu merindukannya dan tak sabar untuk bertemu dengannya lagi.
Menjalankan ritual cinta seperti ini secara kontinu akan menguntungkan kehidupan cinta berdua. Selain menjaga kesuburan pohon romantisme rumahtangga, juga masing-masing suami atau isteri dapat mengetahui suasana hati pasangannya secara jelas. Ketika ciuman isteri untuk tangan suami terlihat agak “aneh” misalnya, maka tentunya suasana hati sang isteri sedang tidak ceria. Mungkin sedang kesal dengan suami, atau mungkin ada masalah rumahtangga yang sedang mengganjal hatinya. Dengan demikian suami dapat menanyakan hatinya apa yang telah dilakukannya pada hari itu sehingga membuat kesal isteri, sehingga dia dapat meminta maaf dan memperbaikinya. Ketika ciuman suami untuk kening isterinya di malam hari sebelum tidur terasa “dingin” alias tidak mesra seperti biasanya, maka tentunya seorang isteri dapat merasakannya. Sehingga dia dapat melakukan introspeksi apa yang kira-kira membuat suami kesal pada hari itu. Dan kemudian cepat meminta maaf serta bertekad memperbaikinya di kemudian hari sehingga masalah itu terselesaikan sebelum keduanya mengarungi mimpi indah. Ritual cinta seperti ini memiliki kemampuan lebih baik daripada kata-kata untuk menjelaskan suasana hati masing-masing pecinta kepada pasangannya. Sebaik-baik ritual cinta adalah ketika dijalankan dengan rutin. Teladan ritual cinta yang terbaik sudah dicontohkan dengan jelas oleh Nabi Muhammad SAW dalam biduk rumah tangganya.

Beberapa hal tak bisa dijelaskan dengan kata-kata
Cinta salah satunya
Hanya nurani tulus
Mampu hasilkan lukisan bagus
Tentangnya…


RASAKAN KESEDIHANNYA


Apa yang terjadi dengan anggota badan lain manakala anggota yang bernama kaki terantuk batu dan berdarah?. Pastilah mulut mengaduh dan mengucap Innalillah. Mata mengalirkan air mata. Lalu tangan membantu meringankan beban sang kaki dengan mengelusnya lembut. Mengapa mulut, mata dan tangan turut bersedih atas kesedihan kaki ? Bukankah mereka tidak merasakan sakit yang dirasakan kaki ? Bukankah mereka sama sekali tidak turut mengeluarkan darah ketika kaki mengeluarkannya ? Lalu apa yang membuat mereka turut merasakan apa yang dirasakan kaki ? Itu semua karena mereka dalam rangkaian satu tubuh. Satu sistem. Satu rasa. Satu jiwa. Sehingga kesedihan dan musibah yang menimpa satu anggota, akan dirasakan pula oleh anggota yang lain.
Demikianlah seharusnya cinta sejati. Kesedihan kekasih seharusnyalah menjadi kesedihan kita pula. Dukanya duka kita. Musibah yang menimpanya merupakan musibah kita juga. Semuanya terjadi bagaikan reflek satu tubuh. Oleh karena itu maka kita tidak ingin membuatnya sedih. Tidak ingin membuatnya tertimpa musibah. Dan sedapat mungkin menempatkannya selalu berada dalam kubah kebahagiaan.
Ketika kekasih bersedih, rasakanlah kesedihan itu. Karena kesedihan itu bukanlah kesedihannya saja, tapi kesedihan berdua. Ketika musibah melandanya, jangan hanya mendampingi tubuhnya, tapi dampingi hatinya. Jangan meniru kesalahan begitu banyak pasangan yang hanya berdampingan tubuh, tapi tidak hatinya, sehingga meskipun kekasihnya sedang ditimpa kesedihan, dirinya tak turut merasakannya.
Memang, untuk mampu melakukan itu semua tidaklah mudah. Perasaan kekasih dan perasaan kita musti melebur menjadi satu.

Belum cinta…
Bila kesedihan kekasih bukan kesedihan kita
Bila hati tak mengisakkan tangis ketika kekasih kalut oleh duka
Sebab cinta adalah…
Dua raga satu rasa
Berbagi…
Itulah inti cinta sejati
Ombak suka dan duka yang datang silih berganti
Selalu tersaji nikmat
Bila dirasakan oleh dua hati…


TINGKATAN CINTA


Ada tiga tingkat cinta.
Pertama, cinta atas dasar harapan mendapat sesuatu. Yaitu ketika seorang yang mencintai kekasihnya karena menginginkan sesuatu dari kekasihnya itu. Dan sesuatu yang diinginkannya itu biasanya berujud materi. Seorang wanita biasanya mudah tergoda dengan materi. Isteri yang mencintai suaminya karena ingin hartanya, berarti dia masuk dalam golongan ini. Isteri yang memijit punggung suaminya hanya ingin jatah nafkahnya ditambah. Isteri yang menyuguhkan teh hangat disertai seulas senyuman hanya karena ingin merayu minta dibelikan anting-anting. Atau isteri yang rajin bersih-bersih rumah dengan niat suami membelikan perabot baru. Semuanya masuk dalam golongan cinta tingkat ini. Cinta seperti ini adalah tingkatan cinta yang paling rendah. Jika keinginannya tidak terpenuhi maka kadar cinta pecinta golongan ini sontak turun tajam. Bahkan kemudian hatinya terisi oleh bibit-bibit kejengkelan, kebencian dan kemarahan. Sehingga bila akumulasi harapan-harapannya yang tak terpenuhi itu sudah sedemikian besar, seringkali berujung pada perselisihan, bahkan perpisahan.
Kedua, cinta atas dasar mengharap ridho kekasih. Cinta seperti ini lebih tinggi tingkatannya dari yang pertama. Yaitu mencintai kekasih karena semata mengharap ridhonya. Orang yang memiliki cinta tingkat kedua ini akan melakukan apapun secara sukarela dengan tujuan agar kekasih mendapatkan kebahagiaan. Agar kekasih memperoleh kesenangan. Agar kekasih terhindar dari marabahaya, dll. Terkadang ada dia berani mengambil resiko besar dalam melakukan hal-hal tersebut. Terkadang dia bersedia melakukan sesuatu yang konyol dan memalukan. Terkadang dia mau melakukan sesuatu yang tidak masuk akal. Bahkan tak jarang ada yang rela melakukan sesuatu yang membahayakan nyawanya sendiri. Dalam melakukan semuanya itu, dia tidak mengharapkan imbalan dari kekasih atas apa yang dilakukannya itu. Yang ada dihatinya hanyalah niat tulus agar kekasihnya senang dan bahagia, itu saja. Dan inilah yang disebut cinta tulus. Dan ketika kekasih tersenyum senang, diapun turut merasakan kesenangan itu. Manakala kekasih bahagaia, hatinyapun turut merasa bahagia.
Ketiga, cinta atas dasar mengharap Ridho Allah sekaligus ridho kekasih. Inilah cinta sejati. Inilah cinta tertinggi. Pada cinta jenis kedua (mengharap ridho kekasih), adakalanya orang tersebut melakukan sesuatu dengan tulus namun apa yang dilakukannya itu tidak diridhoi oleh Allah, Sang Pencipta Cinta. Artinya apa yang dilakukannya itu menyimpang dari aturan-aturan agama. Jika demikian adanya, maka dia dan kekasihnya tidak akan merasakan kebahagiaan sejati. Yang dirasakannya hanyalah kesenangan jangka pendek dan bersifat semu. Misalnya saja waktu sholat maghrib hampir habis dan dia membiarkan kekasihnya asyik menonton TV karena tidak mau mengganggu kesenangannya. Atau dia terus menerus memanjakannya dengan selalu membelikan barang-barang mewah secara mubazir dan berfoya-foya menghamburkan uang untuk menyenangkan kekasihnya (yang tidak punya nilai ibadah). Itu semua bertentangan dengan aturan Allah. Dan orang yang tindakannya bertentangan dengan aturanNya tidak akan menemukan ketentraman hidup dan kebahagiaan sejati. Sebab, yang meniupkan kebahagiaan dan ketenangan hidup kedalam hati manusia hanyalah Allah. Dan kebahagiaan sejati di dunia ini adalah ketika amal perbuatan seseorang itu sejalan dengan PerintahNya (sejalan dengan nurani). Yaitu ketika amal perbuatannya itu memiliki nilai ibadah.
Itulah kenapa cinta tulus saja tidak menjamin kebahagiaan. Yang menjamin kebahagiaan adalah cinta jenis ketiga, yakni cinta tulus mengharap Ridho Allah sekaligus kekasih. Jadi apa yang dilakukan haruslah sesuai dengan jalur pencarian ridhoNya terlebih dulu, baru ridho kekasihnya.

Tanpa air…
Tiada kehidupan bagi tetumbuhan
Tanpa cinta sejati…
Tiada kebahagiaan bagi insan
Jalaran cinta adalah gerbang
Menuju kota kebahagiaan
Wahai pecinta
Cairkanlah hatimu…
Lalu siramlah hati kekasih
Agar selalu segar dan bersih
Sebab yang demikian itulah cinta


NAUNGI HATI KEKASIH


Cinta…
Nama lain dari keteguhan hati
Tuk selalu letakkan hati kekasih berada diatas
Demi lancarkan sebuah pelayaran yang diretas
Menuju pulau kebahagiaan

Syair diatas menggambarkan bahwa cinta adalah komitmen. Komitmen untuk menghormati, menghargai dan meletakkan hati kekasih berada diatas hati kita sendiri. Muhammad, pria paling romantis di muka bumi ini memberi pesan penting bagi kita agar selalu membalas kebaikan orang lain dengan balasan yang lebih baik atau setidaknya setimpal. Jika kepada orang lain saja kita dianjurkan memberi yang lebih baik, maka tentunya kepada kekasih sendiri juga begitu atau bahkan lebih baik lagi.
Namun komitmen dan kesungguhan untuk menghormati, menghargai dan mencintai kekasih sama seperti diri sendiri sangatlah sulit. Apalagi meletakkan hatinya diatas hati kita, tentu lebih sulit lagi. Ini karena setiap orang memiliki ego. Ego untuk mementingkan dirinya sendiri. Ego untuk mencintai dirinya sendiri. Ego untuk membuat dirinya sendiri nyaman dan menomorduakan kenyamanan orang lain. Ego untuk membenarkan pendapat sendiri. Ego untuk memandang eksistensi dirinya lebih penting dari orang lain. Ego untuk menganggap jasanya lebih tinggi dan lebih banyak ketimbang orang lain. Ego untuk mempersalahkan orang lain ketika terjadi sesuatu. Ego untuk menang sendiri dalam setiap perselisihan tanpa memandang secara adil duduk perkaranya. Ego, untuk bukannya minta maaf terhadap kekeliruan, tapi membela diri habis-habisan dengan berbagai cara. Ego untuk melimpahkan tugas dan tanggungjawab kepada orang lain. Dan ego-ego lainnya yang mempersulit upaya “meletakkan hati kekasih diatas”.
Ego-ego (negatif) seperti diatas memang tak bisa dibuang (kecuali orang-orang berderajat tertentu saja yang bisa), tetapi bisa dikendalikan dan dikekang. Ego bagaikan kuda liar yang tak pernah mau tunduk kepada siapapun. Ego selalu ingin mengendalikan, tidak dikendalikan. Oleh karena untuk mengekangnya dibutuhkan kekuatan dahsyat dari dalam diri. Kekuatan dahsyat ini diperoleh dari kelembutan hati. Maka wahai pecinta, jika engkau ingin meletakkan hati kekasih berada diatas, menghormati, menghargai serta mencintai dengan setulusnya, maka perlembutlah hatimu. Mengalahlah untuknya. Setelah engkau bisa mengendalikan egomu sendiri, maka engkau akan punya peluang yang sangat besar untuk bisa mengendalikan ego kekasihmu. Tetapi jika egomu sendiri tak bisa kau kendalikan, maka jangan bermimpi bisa mengendalikan ego kekasih.


Sunday, July 25, 2010

Tahukah Kamu Dimana Allah

At Tauhid edisi IV/48
Oleh: Yulian Purnama
Ada sebuah pertanyaan penting yang cukup mendasar bagi setiap kaum muslimin yang telah mengakui dirinya sebagai seorang muslim. Setiap muslim selayaknya bisa memberikan jawaban dengan jelas dan tegas atas pertanyaan ini, karena bahkan seorang budak wanita yang bukan berasal dari kalangan orang terpelajar pun bisa menjawabnya. Bahkan pertanyaan ini dijadikan oleh Rasulullah sebagai tolak ukur keimanan seseorang. Pertanyaan tersebut adalah “Dimana Allah?”.
Jika selama ini kita mengaku muslim, jika selama ini kita yakin bahwa Allah satu-satunya yang berhak disembah, jika selama ini kita merasa sudah beribadah kepada Allah, maka sungguh mengherankan bukan jika kita tidak memiliki pengetahuan tentang dimanakah dzat yang kita sembah dan kita ibadahi selama ini. Atau dengan kata lain, ternyata kita belum mengenal Allah dengan baik, belum benar-benar mencintai Allah dan jika demikian bisa jadi selama ini kita juga belum menyembah Allah dengan benar. Sebagaimana perkataan seorang ulama besar Saudi Arabia, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin: “Seseorang tidak dapat beribadah kepada Allah secara sempurna dan dengan keyakinan yang benar sebelum mengetahui nama dan sifat Allah Ta’ala” (Muqoddimah Qowa’idul Mutsla).
Sebagian orang juga mengalami kebingungan atas pertanyaan ini. Ketika ditanya “dimanakah Allah?” ada yang menjawab ‘Allah ada dimana-mana’, ada juga yang menjawab ‘Allah ada di hati kita semua’, ada juga yang menjawab dengan marah sambil berkata ‘Jangan tanya Allah dimana, karena Allah tidak berada dimana-mana’. Semua ini, tidak ragu lagi, disebabkan kurangnya perhatian kaum muslimin terhadap ilmu agama, terhadap ayat-ayat Allah dan hadits-hadits Rasulullah yang telah jelas secara gamblang menjelaskan jawaban atas pertanyaan ini, bak mentari di siang hari.
Allah bersemayam di atas Arsy
“Dimanakah Allah?” maka jawaban yang benar adalah Allah bersemayam di atas Arsy, dan Arsy berada di atas langit. Hal ini sebagaimana diyakini oleh Imam Asy Syafi’I, ia berkata: “Berbicara tentang sunnah yang menjadi pegangan saya, murid-murid saya, dan para ahli hadits yang saya lihat dan yang saya ambil ilmunya, seperti Sufyan, Malik, dan yang lain, adalah iqrar seraya bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq selain Allah, dan bahwa Muhammad itu adalah utusan Allah, serta bersaksi bahwa Allah itu diatas ‘Arsy di langit, dan dekat dengan makhluk-Nya” (Kitab I’tiqad Al Imamil Arba’ah, Bab 4). Demikian juga diyakini oleh para imam mazhab, yaitu Imam Malik bin Anas, Imam Abu Hanifah (Imam Hanafi) dan Imam Ahmad Ibnu Hambal (Imam Hambali), tentang hal ini silakan merujuk pada kitab I’tiqad Al Imamil Arba’ah karya Muhammad bin Abdirrahman Al Khumais.
Keyakinan para imam tersebut tentunya bukan tanpa dalil, bahkan pernyataan bahwa Allah berada di langit didasari oleh dalil Al Qur’an, hadits, akal, fitrah dan ‘ijma.
1. Dalil Al Qur’an
Allah Ta’ala dalam Al Qur’anul Karim banyak sekali mensifati diri-Nya berada di atas Arsy yaitu di atas langit. Allah Ta’ala berfirman yang artinya:
“Allah Yang Maha Pemurah bersemayam di atas Arsy (QS. Thaha: 5)
Ayat ini jelas dan tegas menerangkan bahwa Allah bersemayam di atas Arsy. Allah Ta’ala juga berfirman yang artinya:
“Apakah kamu merasa aman terhadap Dzat yang di langit (yaitu Allah) kalau Dia hendak menjungkir-balikkan bumi beserta kamu sekalian sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang” (QS. Al Mulk: 16)
Juga ayat lain yang artinya:
“Malaikat-malaikat dan Jibril naik kepada Rabb-Nya dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun” (QS. Al-Ma’arij: 4). Ayat pun ini menunjukkan ketinggian Allah.
2. Dalil hadits
Dalam hadits Mu’awiyah bin Hakam, bahwa ia berniat membebaskan seorang budak wanita sebagai kafarah. Lalu ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menguji budak wanita tersebut. Beliau bertanya: “Dimanakah Allah?”, maka ia menjawab: “ Di atas langit”, beliau bertanya lagi: “Siapa aku?”, maka ia menjawab: “Anda utusan Allah”. Lalu beliau bersabda: “Bebaskanlah ia karena ia seorang yang beriman” (HR. Muslim).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda yang artinya:
“Setelah selesai menciptakan makhluk-Nya, di atas Arsy Allah menulis, ‘Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului murka-Ku’ ” (HR. Bukhari-Muslim)
3. Dalil akal
Syaikh Muhammad Al Utsaimin berkata: “Akal seorang muslim yang jernih akan mengakui bahwa Allah memiliki sifat sempurna dan maha suci dari segala kekurangan. Dan ‘Uluw (Maha Tinggi) adalah sifat sempurna dari Suflun (rendah). Maka jelaslah bahwa Allah pasti memiliki sifat sempurna tersebut yaitu sifat ‘Uluw (Maha Tinggi)”. (Qowaaidul Mutslaa, Bab Syubuhaat Wa Jawaabu ‘anha)
4. Dalil fitrah
Perhatikanlah orang yang berdoa, atau orang yang berada dalam ketakutan, kemana ia akan menengadahkan tangannya untuk berdoa dan memohon pertolongan? Bahkan seseorang yang tidak belajar agama pun, karena fitrohnya, akan menengadahkan tangan dan pandangan ke atas langit untuk memohon kepada Allah Ta’ala, bukan ke kiri, ke kanan, ke bawah atau yang lain.
Namun perlu digaris bawahi bahwa pemahaman yang benar adalah meyakini bahwa Allah bersemayam di atas Arsy tanpa mendeskripsikan cara Allah bersemayam. Tidak boleh kita membayangkan Allah bersemayam di atas Arsy dengan duduk bersila atau dengan bersandar atau semacamnya. Karena Allah tidak serupa dengan makhluknya. Allah Ta’ala berfirman yang artinya:
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah” (QS. Asy Syura: 11)
Maka kewajiban kita adalah meyakini bahwa Allah berada di atas Arsy yang berada di atas langit sesuai yang dijelaskan Qur’an dan Sunnah tanpa mendeskripsikan atau mempertanyakan kaifiyah (tata cara) –nya. Imam Malik pernah ditanya dalam majelisnya tentang bagaimana caranya Allah bersemayam? Maka beliau menjawab: “Bagaimana caranya itu tidak pernah disebutkan (dalam Qur’an dan Sunnah), sedangkan istawa (bersemayam) itu sudah jelas maknanya, menanyakan tentang bagaimananya adalah bid’ah, dan saya memandang kamu (penanya) sebagai orang yang menyimpang, kemudian memerintahkan si penanya keluar dari majelis”. (Dinukil dari terjemah Aqidah Salaf Ashabil Hadits)
Allah bersama makhluk-Nya
Allah Ta’ala berada di atas Arsy, namun Allah Ta’ala juga dekat dan bersama makhluk-Nya. Allah Ta’ala berfirman yang artinya:
“Allah bersamamu di mana pun kau berada” (QS. Al Hadid: 4)
Ayat ini tidak menunjukkan bahwa dzat Allah Ta’ala berada di segala tempat. Karena jika demikian tentu konsekuensinya Allah juga berada di tempat-tempat kotor dan najis, selain itu jika Allah berada di segala tempat artinya Allah berbilang-bilang jumlahnya. Subhanallah, Maha Suci Allah dari semua itu. Maka yang benar, Allah Ta’ala Yang Maha Esa berada di atas Arsy namun dekat bersama hambanya. Jika kita mau memahami, sesungguhnya tidak ada yang bertentangan antara dua pernyataan tersebut.
Karena kata ma’a (bersama) dalam ayat tersebut, bukanlah kebersamaan sebagaimana dekatnya makhluk dengan makhluk, karena Allah tidak serupa dengan makhluk. Dengan kata lain, jika dikatakan Allah bersama makhluk-Nya bukan berarti Allah menempel atau berada di sebelah makhluk-Nya apalagi bersatu dengan makhluk-Nya.
Syaikh Muhammad Al-Utsaimin menjelaskan hal ini: “Allah bersama makhluk-Nya dalam arti mengetahui, berkuasa, mendengar, melihat, mengatur, menguasai dan makna-makna lain yang menyatakan ke-rububiyah-an Allah sambil bersemayam di atas Arsy di atas makhluk-Nya” (Qowaaidul Mutslaa, Bab Syubuhaat Wa Jawaabu ‘anha) .
Ketika berada di dalam gua bersama Rasulullah karena dikejar kaum musyrikin, Abu Bakar radhiallahu’anhu merasa sedih sehingga Rasulullah membacakan ayat Qur’an, yang artinya:
“Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita” (QS. Taubah: 40)
Dalam Tafsir As Sa’di dijelaskan maksud ayat ini: “ ’Allah bersama kita’ yaitu dengan pertolongan-Nya, dengan bantuan-Nya dan kekuatan dari-Nya”. Allah Ta’ala juga berfirman yang artinya:
“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku qoriib (dekat). Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepadaKu” (QS. Al Baqarah: 186)
Dalam ayat ini pun kata qoriib (dekat) tidak bisa kita bayangkan sebagaimana dekatnya makhluk dengan makhluk. Dalam Tafsir As Sa’di dijelaskan maksud ayat ini: “Sesungguhnya Allah Maha Menjaga dan Maha Mengetahui. Mengetahui yang samar dan tersembunyi. Mengetahui mata yang berkhianat dan hati yang ketakutan. Dan Allah juga dekat dengan hamba-Nya yang berdoa, sehingga Allah berfirman ‘Aku mengabulkan doa orang yang berdoa jika berdoa kepada-Ku’ ”. Kemudian dijelaskan pula: “Doa ada 2 macam, doa ibadah dan doa masalah. Dan kedekatan Allah ada 2 macam, dekatnya Allah dengan ilmu-Nya terhadap seluruh makhluk-Nya, dan dekatnya Allah kepada hambaNya yang berdoa untuk mengabulkan doanya” (Tafsir As Sa’di). Jadi, dekat di sini bukan berarti menempel atau bersebelahan dengan makhluk-Nya. Hal ini sebenarnya bisa dipahami dengan mudah. Dalam bahasa Indonesia pun, tatkala kita berkata ‘Budi dan Tono sangat dekat’, bukan berarti mereka berdua selalu bersama kemanapun perginya, dan bukan berarti rumah mereka bersebelahan.
Kaum muslimin, akhirnya telah jelas bagi kita bahwa Allah Yang Maha Tinggi berada dekat dan selalu bersama hamba-Nya. Allah Maha Mengetahui isi-isi hati kita. Allah tahu segala sesuatu yang samar dan tersembunyi. Allah tahu niat-niat buruk dan keburukan maksiat yang terbesit di hati. Allah bersama kita, maka masih beranikah kita berbuat bermaksiat kepada Allah dan meninggakan segala perintah-Nya?
Allah tahu hamba-hambanya yang butuh pertolongan dan pertolongan apa yang paling baik. Allah pun tahu jeritan hati kita yang yang faqir akan rahmat-Nya. Allah dekat dengan hamba-Nya yang berdoa dan mengabulkan doa-doa mereka. Maka, masih ragukah kita untuk hanya meminta pertolongan kepada Allah? Padahal Allah telah berjanji untuk mengabulkan doa hamba-Nya. Kemudian, masih ragukah kita bahwa Allah Ta’ala sangat dekat dan mengabulkan doa-doa kita tanpa butuh perantara? Sehingga sebagian kita masih ada yang mencari perantara dari dukun, paranormal, para wali dan sesembahan lain selain Allah. Wallahul musta’an. [Yulian Purnama]
alfakir.com